Tahukah Kamu, Mengapa Malaysia Tidak Ikut KTT G20, Berikut Alasannya

Nitizone – Baru-baru ini sejumlah orang sempat bertanya, kenapa Malaysia tidak ikut G20 di Bali tahun 2022 ini? Mengapa hanya Indonesia saja yang masuk G20 dari wilayah Asia Tenggara? Benar bahwa Indonesia memang menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang menjadi anggota G20. Lantas, kenapa Malaysia tidak ikut G20? Bagaimana dengan Singapura?

BACA JUGA:  Elektabilitas Erick Thohir Meningkat, Relawan ETOR Mulai Tancap Gas Deklarasi ETOR DPW DKI Jakarta

Faktanya, Indonesia tak hanya menjadi anggota G20 saja. Tahun ini, tepatnya sejak 14 November 2022, Indonesia menjadi tuan rumah KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) G20 di Bali. Pertanyaan yang sama tetap terngiang-ngiang di telinga sejumlah pihak. Kenapa Malaysia tidak ikut G20?

Seperti yang diketahui, G20 merupakan forum kerjasama multilateral yang di dalamnya terdapat 19 negara anggota utama termasuk Uni Eropa.

Negara- negara yang menjadi anggota G20 adalah Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Afrika Selatan, Australia, Brasil, Indonesia, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Turki, Tiongkok, dan Uni Eropa.

Namun untuk KTT G20 di Bali kali ini, 3 Presiden dari Rusia (Vladimir Putin) dan 2 presiden dari Meksiko dan Brasil tidak dapat hadir. G20 sendiri merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi bumi, 75 persen perdagangan global, dan 80 persen PDB Dunia.

Sehingga G20 berisi 20 negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar dunia, termasuk Indonesia di dalamnya. Adapun Malaysia dan Singapura tidak bisa menjadi bagian G20 adalah karena 2 faktor berikut ini.

1. Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia dan Singapura Masih Jauh Lebih Rendah Dibandingkan PDB Indonesia.

PDB merupakan total nilai produksi dan jasa yang dihasilkan semua orang atau perusahaan dalam suatu negara. Sehingga nilai PDB menjadi salah satu tolok ukur untuk bisa mengetahui kondisi perekonomian dari suatu negara. PDB juga dijadikan sebagai tolak ukur nilai produksi barang dan jasa oleh faktor produksi milik warga negara serta negara asing dalam waktu satu tahun.

Adapun nilai PDB Singapura, dilansir dari beberapa sumber adalah sekitar 340 miliar USD yang tentu saja angkanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan nilai PDB Indonesia yang berjumlah sekitar 1.058 triliun USD.

Bagaimana dengan Malaysia? Nilai PDB Malaysia juga ternyata tak mencapai setengah PDB Indonesia yaitu hanya berjumlah sebesar 372.7 miliar USD

2. Populasi Malaysia dan Singapura Lebih Sedikit Dibandingkan Populasi Indonesia

Dilansir dari beberapa sumber, pada tahun 2020, Malaysia hanya memiliki jumlah populasi sebanyak 32,78 juta.

Sedangkan Singapura memiliki jumlah populasi 5.686 juta jiwa.

Sementara Indonesia mencapai angka populasi 273,5 juta jiwa.

Sehingga jumlah populasi juga ternyata menjadi syarat untuk bisa menjadi anggota G20.

Sedangkan kemunculan perdana menteri Singapore Lee Hsien Loong di G20 Bali adalah karena undangan dari Presiden Jokowi.

Dapat disimpulkan bahwa hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia, terutama setelah mengetahui bahwa nilai PDB Indonesia termasuk tinggi untuk bisa menjadi bagian dari G20. (red)